Muslim yang benar selalu menampilkan budi yang baik, perangai yang lembut, perkataan yang halus dan ramah. Nabi SAW, manusia yang harus dijadikan panutan idola kaum muslimin, telah banyak mencontohkan perbuatan-perbuatan mulia di atas untuk menuntun umatnya. Anas, sahabat sekaligus pembantu setia Nabi, mengataakan bahwa beliau menusia yang baik ahlaknya (HR Muttafaq Alaihi). Mengenai kebaikan ahlak Nabi itu. Anas RA menceritakan:

            ‘’aku telah membantu Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Selama itu pula, tak pernah sekalipun meluncur dari lisan beliau kepadaku kata “ah”, dan beliau tidak pernah mengataakan untuk suatu yang aku kerjakan ‘’mengapa engkau lakukan hal itu?’’, tidak pula untuk sesuatu yang tidak aku kerjakan ‘’mengapa kamu tidak melakukanya?,..’’(HR Muttafaq alaihi).
           
            Rasulullah selalu menjauhi perbuatan maupun ucapanyang kotor, abdullah bin Ash RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah bersabda:

            ‘’sesungguhnya yang termasuk insan pilihan diantara kamu sekalian adalah yang terbaik ahlaknya.’’(HR Muttafaq alaihi).

            ‘’sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari islam, dan sesungguhnya sebaik-baiknya manusia keislamannya adalah yang paling baik ahlaknya n.’’ (HR Thabrani, ahmad, dan Abu Ya’la)

            Sabdanya pula:
            ‘’sesungguhnya yang aku cintai diantara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik ahlaknya. Dan yang paling aku benci dan jauh dari di hari kiamat adalah orang yang banyak bicara dan berlagak sombong serta bertele-tele dalam berbicara.’’. bertanya para sahabat ya Rasulullah, kami tahu apa dinamakan ‘’atstsartsaarun wal mutasyaddiqun (banyak bicara dan bertele-tele) lalu apakah arti ‘al mutafaihiqun’?’’ Rasulullah menjawab: Al mutakabbirun (sombong).’’(HR Tirmizi).

            Semua sahabat Rasulullah yang diridhoi Allah selalu tekun mendengar dan mengikuti bimbingan ahlak yang mulia dari beliau. Mereka menyaksikan sendiri ketinggian ahlak beliau. Mereka dengan penuh kesadaran dan semangat, berbuat sesuai dengan ajaran beliau, sehingga waktu tegaklah suatu masyarakat islam yang indah, adil, yang tidak bisa dilupakan didalam sejarah umat islam.
           
Anas RA berkata:
            ‘’Nabi SAW penuh dengan belas ksih. Tak ada seorangpun mendatangi beliau kecuali baliau menjanjikanya, dan memenuhi janjinya jika telah berjanji dengan seseorang meskipun beliau sedang mendirikan shalat. Pernah datang seorang Arab Badui kepada beliau, lalu menarik baju baliau seraya berkata: sesungguhnya aku tetap akan melaksanakan hajatku (sekarang juga), aku takut lupa, maka Nabi SAW berdiri bersamanya hingga ia menyelesaikan hajatnya, kemudian beliau menghadap kiblat dan meneruskan shalat.’’ (HR Bukhari)

            Tidak nampak pada diri Rasulullah SAW rasa keberatan sedikitpun untuk menedengarkan orang arab itu dan menyelesaikan hajatnya, padahal beliau tengah mendirikan shalat. Tidaklah sempit dadanya mendengar perlakuan kasar lelaki tersebut yang menarik bajunya, dan menunggu menyelesaikan hajatnya sebelum shalat. Beliau bersabar, lembut dalam membangun masyarakat yang tegak atas moral yang suci. Beliau mendidik kaum muslim melalui perbuatan nyata, bagaimana seharunsnya seorang muslim memebantu sesama saudaranya. Dia telah menegakkan suatu prinsip dan sendi-sendi ahlak yang diperlukan bagi masyarakat muslim yang kokoh.

            Jika kita lihat, kebajikan moral pada masyarakat bukan muslim selalu berpulang pada kebaikan sistem pendidikan, dan hasil kerja ilmiah. Sedangkan pada masyarakat muslim, sebelum dikembalikan kepada unsur-unsur tersebut, terlebih dulu masalah-masalah itu dikembalikan kepada agama (sistem ajaran ilahi) yang menjadikan ahlak sebagai tabiat asli kaum muslimin. Dan ahlak memperoleh kedudukan yang tinggi dalam islam, berat bobot timbangannya disisi Allah. Keluhuran ahlak yang berat timbanganya bagi seorang muslim dalam pengadilan ilahi.

            Menjelaskan hal ini, Rasulullah SAW telah bersabda:
            ‘’tiada suatu yang berat timbangannya bagi seorang muslim di hari kiamat daripada ahlak. Dan Allah membenci orang yang keji dalam ucapan ataupun perbuatannya.’’ (HR Tirmidzi).

            Lebih jauh, islam menjadikan keluhuran ahlak sebagai syarat kesempurnaan iman, sebagaimana ditegaskan Nabi SAW:

            ‘’paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur ahlaknya.’’ (HR Tirmidzi)

            Keluhuran ahlak juga akan menyebabkan seorang hamba sangat dicintai Allah. Pernah sekelompok manusia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa yang paling dicintai Allah dari hamba-hambanya. Menjawab pertanyaan mereka, bersabda beliau SAW :
            ‘’Yang paling baiknya ahlaknya diantara mereka.’’ (HR Tabrani)
           
Kemudian beliau bersabda:
‘’tidak ada yang lebih berat timbangannya daripada keluhuran ahlak. Dan seorang yang baik ahlaknya dapat mencapai, bahkan melebihi, derajat orang yang berpuasa (disiang hari) dan shalat (dimalam hari)....’’( HR Tirmidzi)

Rasulullah benar-benar menekankan arti penting keluhuran ahlak kepada para sahabatnya. Beliau, tanpa henti-hentinya, menanamkan semangat untuk memperkokoh ikatan persahabatan dan saling mencintai sesama sahabat. Semua itu dilakukan beliau melalui berbagai cara, baik lisan maupun perbuatan nyata, sehingga beliau berhasil meresapkan ajaran beliau ke lubuk hati para sahabat sekaligus pengikutnya, mensucikan jiwa mereka, dan memperindah ahlak mereka itu. Di antaranya, rasulullah saw berwasiat kepada Abu Zar Al Gifari:

‘’hai abu Zar, maukah aku tunjukkan dua perkara yang sangat ringan dipikul dan lebih berat dalam timbangan daripada perkara-perkara lainya?’’. Abu Zar menjawab ‘’mau, ya Rasulullah,’’ Rasulullah berkata: ‘’ engkau harus berahlak luhur dan banyak berdiam mulut (tidak banyak bicara). Maka demi Allah yang jiwaku berada paada kekuasan-Nya, tidak ada lebih indah dari manusia-manusia ciptaan-Nya dari pada mereka yang mengerjakan kedua perkara tersebut’’. (HR Tabrani dan Abu Ya’la).

Beliau saw juga bersabda:
‘’sebaik-baiknya ahlak adalah yang dapat menaikan harkat-Nya dan sejelek-jeleknya ahlak adalah yang dapat membawa sial pada dirinya. Adapun kebajikann akan menambah umur, dan sedekah dapat mencegah mati (dalam keadaan) jelek..’’ (HR Ahmad).

Rasulullah SAW beliau bersabda :
‘’Allahumma ahsanta khalqie, fa ahsin khuluqie’’
(ya Allah, engkau telah menciptakanku dengan seindah-indahnya, maka perindahlah ahlakku). (HR Ahmad)

Do’a tersebut telah didengar oleh Allah, Yang Maha Mendengar, dan dinyatakan oleh Allah SWT didalam Qur’an surat Al-Qalam ayat 4:
‘’dan sesungguhnya engkau benar-benar ber ahlak agung.’’

Do’a ini tidak hanya memiliki makna harfiyah, tetapi juga makna yang sangat dalam, bukan saja dikehendaki Allah dan Rasul. Tetapi juga oleh setiap muslim. Keluhuran ahlak (husnul khuluq) merupakan suatau kata yang sempurna. Didalamnya terkandung setiap ahlak yang mulia, yang dapat menagangkat harkat manusia, membersihkannya dan meninggikannya. Ia meliputi Al-Haya’ (rasa malu), Al-Hilm (sabar hati), Ar Rifq (lemah lembut), Al Afwu (pema’af), As Simahah (toleran), Al Bisyr (periang), Ash Shidq (jujur), Al Amanah (berjiwa amanah), An Nasihah (suka memberi nasehat dan terbuka terhadap kritik), Al Istiqomah (teguh pendirian), dan Shafaussarirah (sikap bersih), serta sifat-sifat lainya yang termasuk kedalam kemuliaan budi.

Sifat-sifat mulia seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam menopang kehidupan masyarakat yang tinggi. Islam, dalam membentuk pribadi muslim yang berjiwa sosial dan sanggup mengemban amanah ilahi, sangat memeperhatikan masalah ini. Tidak cukup pada hal-hal umum, bahkan secara detil, bagian demi bagian, islam  menyentuh masalah pembinaan ahlak ini dalam mencapai tujuannya. Demikian konsep dan kelengkapan manhaj islam. Terutama yang menyangkut manhaj tarbiyyah (metoda pendidikan) kemasyarakatan.
                         





Sumber : APAKAH ANDA BERKEPRIBADIAN MUSLIM. Penulis: Prof. Dr. Muhammad Ali Hasyimi

            Ciri lain dari pribadi muslim yang benar-benar memelihara agamanya, yang menandakan akhlaknya yang terpuji, adalah kesetiaanya terhadap janji-janjinya. Ia selalu berusaha menyegerakannya. Ketepatan janji merupakan perwujudan kesetiaan, dan merupakan akar akhlak islam.

Islam sangat menekankan kesetian terhadap janji. Banyak dalil berupa ayat Qur’an maupun hadist Nabi menyatakan kaita erat antara kesetiaan iman seorang muslim dengan kesetiannya terhadap janji, antara lain;
‘’Hai orang-orang beriman, penuhilah ikatan-ikatan perjanjian itu..’’(Al Maidah 1)
‘’....penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung-jawabannya.’’      (Al Isra 34)
Janji bukanlah hanya kalimat kosong yang diucapkan oleh seorang tanpa disertai kesadaran dan komitmen penuh, sebagaimana dilakukan kebanyakkan kaum muslim sekarang. Tetapai janji adalah suatu tanggung jawab yang tetap terukir dan akan diperhitungkan kelak dihadapan Al Khaliq. Apalagi janji seorang hamba kepada penciptanya yang penuh keagungan dan kesucian. Janji kepada Allah jauh mengandung tanggung jawab yang lebih besar. Allah berfirman :
‘’dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah meneguhkannya.......’’(An Nahl 91).
‘’hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan .’’(Ash Shaf 2-3).
Ingkar janji dan menyepelekan janji merupakan dosa besar, tidak disukai Allah bagi hamba-Nya yang beriman, dan tidak dikehendaki bagi mereka yang ingin dekat dengan-Nya. Keingkaran akan menjerumuskan kaum muslimin kaum muslimin ke sifat munafik. Rasulullah mengingatkan:
‘’ciri-ciri orang munafik ada tiga: jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika amanat berkhianat.’’(HR Muttafaq Alaihi).
Dan didalam riwayat Muslim ditambahkan: sekalipun ia berpuasa, shalat dan mengaku bahwa dirinya seorang muslim!
Jelaslah, bahwa baiknya keislaman seseorang, tidak bisa di capai hanya dengan memperkuat ibadah seperti puasa, shalat dan haji, tetapi harus disertai dengan usaha mempelajari dan menghayati ajaran islam sampai memperkokoh jiwa dan kepribadiannya, serta mengikuti petunjuknya. Ia dituntut menampilkan akhlak yang luhur, mewujudkan nilai-nilai moral ilahiyah yang tinggi dan suci. Ia wajib memperhatikan ketentuan-ketentuan Allah, komit terhadap seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ia selalu bernaung dibawah cahaya dan hidayah Allah di dalam setiap urusan. Tegasnya, seorang muslim yang baik haruslah mampu meninggalkan dusta, ingkar janji, khianat dan ahlak-ahlak tak terpuji yang lain. Perbuatan-perbuatan hina demikian hanya pantas untuk orang-orang munafik yang di benci Allah.




Sumber : APAKAH ANDA BERKEPRIBADIAN MUSLIM. Penulis: Prof. Dr. Muhammad Ali Hasyimi.

            Muslim yang benar tidak cukup hanya menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela, tetapi juga harus menghiasi diri dengan prilaku positif dan konstruktif, setia secara murni dan jujur bagi setiap muslim dalam masyarakatnya karena imannya. Sebab, pada intinya adalah kesetiaan, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW:
‘’Din itu adalah kesetiaan yang murni. Bertanyalah salah seorang sahabat yang mulia; untuk siapa? Rasulullah menjawab; untuk kitabnya, Rasulnya, dan untuk pemimpin kaum muslimin beserta umatnya.’’ (HR Bukhari-Muslim).
        Para sahabat yang mulia telah berbaiat (berjanji) kepada Rasulullah SAW unutk menunaikan shalat, zakat dan nasehat bagi setiap muslim. Telah berkata Jabir bin Abdullah RA:
‘’saya telah berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan berlaku setia kepada setiap muslim’’. (HR Muttafaq Alaihi).
            Kaitan erat antara kesetiaan dengan shalat dan zakat, sebagaimana terkandung dalam baiat yang dilakukan para sahabat, menunjukan pentingnya kesetiaan dalam timbangan amal-amal Islam bagi seorang muslim, menentukan kemuliaannya di sisi Allah. Nasehat hendaknya menjadi moral dasar dari akhlak muslim yang luhur.
            Tingginya kedudukan kesetian bagi kaum muslimin di kemudian hari makin nyata ketika ia harus mentaati perintah pimpinan dan terlihat dalam urusan-urusan kaum muslimin. Terlihat bahwa kesetiaan merupakan kunci keberhasilan bagi jiwa yang tak berkesudahan. Jika di campakkan, haramlah baginya kebahagiaan di akhirat. Telah bersabda Nabi Rasulullah SAW:
‘’tidak ada seorang hamba yang Allah mempercayakan kepadanya memimpin rakyat, kemudian ia mati, sedangkan di hari kematiannya itu ia masih (dalam) keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan baginya surga’’. (HR Muslim).
            Muslim meriwayatkan dalam hadist lain, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
‘’tak seorang pun Amir (pemimpin) yang memimpin urusan kaum muslimin, tetapi dia tidak berjuang secara sesungguh dan tidak memberikan pengarahan untuk kemakmuran mereka. Melainkan Allah tidak akan memperkenankannya masuk surga bersama-sama dengan mereka’’.
            Tidak ada yang lebih besar dan agung tanggung jawabnya dari pada seorang hakim di dalam islam. Dan tanggung jawab setiap insan dalam memimpin urusan kaum muslimin. Dan tidak ada yang lebih besar tanggung jawabnya dari pada sikap setia secara murni untuk rakyat bagi seorang muslim di hari manusia bangkit menghadap pengadilan ilahi Rab Sekalian Alam. Dan sungguh besar tanggung jawab seorang manusia; bukankah setiap manusia adalah pemimpin? Sabda Nabi SAW :
‘’setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas yang di pimpinnya’’
            Betapa utuh dan menyuluruhnya tanggung jawab di dalam masyarakat muslim, hampir-hampir tiada satu urusanpun didalam masyarakat lepas dari cakupanya. Karena inilah masyarakat Islam benar-benar tegak di atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai rabbaniyah yang universal, jauh lebih unik dan indah daripada masyarakat manapun, lebih aman, sentosa, bersih dan penuh keadilan.




Sumber : APAKAH ANDA BERKEPRIBADIAN MUSLIM. Penulis: Prof. Dr. Muhammad Ali Hasyimi

            Sifat buruk lainya yang harus di waspadai oleh seorang muslim ialah sifat hasad (dengki). Sifat ini dan sifat buruk-buruk yang telah dibicarakan di atas tidak pantas menyertai seorang muslim yang beriman pada Allah, Rasul dan hari Akhirat. Rasulullah SAW selalu mengingatkan umatnya agar selalu waspada terhadap sifat dengki ini. Beliau bersabda :

‘’hati-hatilah kamu sekalian kepada sifat hasad, karena sesungguhnya hasad akan memakan habis seluruh kebaikan sebagaimana api melalap habis kayu bakar.’’  (HR Abu Daud)
Salah satu ciri khas seorang muslim yang benar adalah jiwabyang bersih dari sifat menipu dan dengki, dan dari menyalahi janji dan dendam kesumat. Kebersihan jiwalah yang mendorong seorang manusia ikhlas menghamba kepada Allah, beribadah, menegakkan sholat dan bermunajat pada malam hari, berpuasa pada siang hari. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad hasan dan oleh Nasa’i dari Anas bin Malik RA: 
‘’ Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, bersabdalah beliau: atas dirimu kini datang seorang dari penghuni surga. Waktu muncul seorang Anshor dengan jenggot sedikit basah bekas air wudlu, sambil menjinjing kedua sandalnya dengan tangan kirinya. Esok harinya Nabi SAW kembali berkata demikian, dan muncul pula orang tersebut seperti saat pertama ia muncul. Ketika pada hari ke tiga Nabi berkata seperti itu lagi. Muncul pula lelaki itu seperti sebelumnya. Tatkala Nabi SAW berdiri, Abdulah bin Amru bin Ash segera mengikuti lelaki itu dan berkata padanya: ‘’ sesungguhnya aku telah bertengkar dengan bapak saya dan bersumpah tidak akan mendatanginya selama tiga hari. Seandainya akhi (saudara) mengizinkan aku tinggal dirumah akhi selama tiga hari itu, niscaya aku akan ikut akhi pulang’’. Lelaki itu menjawab ‘’ ya, silahkan’’. Kemudian Abdullah menceritakan selama tiga hari tinggal bersamanya, tak sekali pun ia melihat lelaki itu melakukan sholat malam: kecuali bahwa setiap lelaki berbalik dalam tidurnya dia menyebut nama Allah dan bertakbir hingga terbangun untuk melaksanakan sholat shubuh. Abdullah menambahkan: ‘’ hanya saja saya tidak mendengarnya berkata selain dengan perkataan yang baik. Lewatlah sudah tiga malam, dan akupun hampir meremehkan amalnya. Kemudian kukatakan kepadanya: wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan bapakku: tetapi aku pernah mendengar Rasulullah SAW mengatakan tentangmu tiga kali dengan ucapan ‘’sekarang akan muncul seorang lelaki dari penghuni  surga’’, selama tiga kali itu pula kau muncul; karena itu aku berusaha menhinap dirumahmu untuk melihat apa yang engkau lakukan sehingga aku bisa mencontohmu; namun aku tidak melihat mu melakukan amalan yang besar; lalu apa sebabnya engkau bisa mencapai derajat seperti yang dikatakan Rasulullah SAW tersebut? Laki-laki itu menjawab; tidak ada yang bisa saya kerjakan selain apa yang telah engkau perhatikan. Kata Abullah, ketika dia berpaling meninggalkannya lelaki itu memanggilnya seraya berkata: tidak yang saya kerjakan selain apa yang telah engkau perhatikan; tetapi tidak tersimpan sedikitpun dalam hatiku keinginan untuk menipu seorangpun dari kaum muslimin atau menaruh dengki  padanya atas  kebaikan yang dikaruniakan Allah kepadanya. Kemudian Abdullah berkata; ‘’inikah yang telah mengangkat derajatmu setinggi itu?!’’
Hadist mulia diatas, mengandung pesan agar kaum muslimin selalu memelihara kemurnian jiwa dari sifat dendam dan dengki, menyelamatkan hati dari sifat mudah menyepelekan janji terhadap siapapun. Ternyatalah, kebersihan jiwa, kebenaran janji dan perkataan akan mengangkat derajat seorang muslim di sisi Allah.
            Juga dinyatakan bahwa kebersihan jiwa, keluhuran amal lebih bernilai di sisi Allah daripada ibadah yang banyak namun kosong dari nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Lelaki itu dinyatakan oleh Rasulullah SAW telah menmpilkan pribadi muslim dan dijamin masuk surga; karena walaupun dia tidak banyak melakukan ibadah melainkan sekedar yang wajib, dia memiliki kemurnian dan kesucian hati sehingga selamatlah orang lain dari perkataan dan tindakanya. Beliau juga mengatakan tentang seorang prempuan yang rajin bangun malam menegakkan sholat sunnah dan berpuasa pada siang hari, namun tetangganya tidak merasa aman dari perbuatannya, bahwasanya dia adalah calon penghuni neraka, sebagaimana termaktub didalam sebuah hadist dari imam Bukhari.
            Seorang muslim hakiki dan patut diteladani, menurut kacamata islam, adalah mereka yang mampu menghimpun kebaikan ibadah dan kemurnian jiwa serta kebaikan amal perbuatanya. Kesucian hatinya selalu diungkapakannya secara nyata dalam kehidupan, perbuatanya tidak pernah menyalahi ucapan-ucapanya. Mereka laksana batubata yang kuat dan bersih didalam bangunan masyarakat islam yang kokoh. Mereka adalah teladan, menampilkan citra islam yang luhur. Sifat-sifat mereka telah digambarkan oleh Nabi SAW melalui sabdanya:

’Bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, bagian yang satu memperkokoh bagian lainya. Dan masyarakat demikian merupakan masyarakat yang bersih, terkendali, unik dan mempunyai sandaran yang kokoh, sehingga pantas memikul tanggung jawab risalah ilahi bagi umatnya..’’  
Seorang muslim yang jujur dan memiliki martabat yang tinggi selalu menjauhi sikap pura pura dengan kepalsuan, penipuan dan ingkar janji. Sikap tersebut merupakan realisasi dari kejujuran, berupa nasehat, kemurnian, sikap pertenghan dan kesetiaan, jauh dari kepalsuan, tipu daya, kelicikan dan ketidak adilan. Ia selalu merasa gemetar untuk melakukan tindakan yang hanya akan memancing murka Allah itu.
Rasulullah menegasakan di dalam sabdanya:
‘’ barang siapa mengangkat senjata melawan kami, bukanlah termasuk golongan kami, dan barang siapa berlaku curang terhadap kami, bukanlah termasuk golongan kami.’’ (HR-MUSLIM)

Di dalam riwayat Muslim lainnya disebut bahwa Rasulullah SAW melewati seonggok makanan, dan beliau memasukan tangan ke dalam makanan itu sehingga jari jari tangannya basah. Maka beliau bertanya kepada pemilik makanan itu: ‘’ Apa gerangan ini wahai pemilik makanan?’’ Pemilik makanan itu menjawab ‘’Terkena hujan, ya Rasulullah.’’ Maka berkata Rasulullah: ‘’ Tidakkah kau sengaja mencampurkan sesuatu pada makanan itu sehingga orang orang yang melihatnya akan tertarik?! Barang siapa siapa yang menipu kami bukanlah termasuk golongan kami!’’
Sesungguhnya masyarakat muslim terbentuk dan tumbuh subur atas dasar cinta; sikap atas mengutamakan nasihat dan senantiasa mementingkan kejujuran, kebijakan dan kesetiaan. Tidak ada tampat didalamnya untuk tumbuh suburnya tipu daya, kepalsuan, ketidak adilan dan janji janji palsu.
Nabi Rasulullah SAW benar benar mengecam sifat palsu, tipu menipu dan mempermainkan janji. Beliau tidak pernah berhenti untuk menyingkirkan sikap zalim itu berikut pelakunya, melemparkan jauh jauh dari masyarakat kaum muslimin sebagai hukuman di dunia, bahkan beliau mengancam bahwa di hari kiamat mereka dijanjikan siksa yang menghinakan. Mereka, yang menyepelekan janjinya di dunia, pada hari itu akan membawa bendera besar bertuliskan hutang janjinya. Beliau Rasulullah SAW bersabda:
‘’Setiap orang yang hutang janji akan menyandang sebuah bendera besar di hari kiamat, sambil berkata: inilah hutang janji si fulan......’’ (HR Muttafaq alaih)
Di hari pembalasan itu akan diketahui sepenuhnya siapa saja yang mempunyai hutang janji dan kepada siapa mereka berhutang janji. Mereka sendiri menjadi saksi, merasakan kehinaan dan malu karena segala kejahatannya di beberkan dihadapan semua makhluk. Rasa malu dan hina itu bertambah besar ketika mereka menghadap nabi SAW, manusia tempat berharap untuk memperoleh syafaat pada hari yang mencekam itu. Ketika beliau menolak memberikan syafaat karena mereka memikul kesalahan besar dan berat berupa hutang janji  yang merupakan hijap atau penghalang dari rahmat Allah. Syafaat SAW pun terhalang dan haram bagi mereka, karena janji-janji yang telah mereka sepelekan didunia tersebut. Sabda nabi SAW:
‘’Ada tiga perkara yang menyebabkan aku menolak mereka di hari kiamat: seseorang yang memberikan janji dengan ku kemudian menghianati; seseorang menjual orang merdeka kemudian memakan hasil penjualannya; dan seseorang yang berkewajiban memberikan upah kepada pelayan yang telah menunaikan perintahnya tetapi tidak memberikan upah pada waktunya.’’ (HR Bukhari)
Sesungguhnya seorang muslim yang benar-benar memperhatikan syiar-syiar Islam, dan membuka pintu bashirah (mata hati) dalam jiwanya, pasti tidak akan berani melakukan penipuan, kepalsuan, khianat dan dusta, sekalipun padanya terdapat manfaat dan keuntungan yang banyak. Perbuatan dan sikap kotor seperti itu akan memerosokkannya ke dalam sifat-sifat kaum munafik; dan sesungguhnya orang-orang munafik akan dilemparkan ke dalam kerak api neraka, tiada penolong bagi mereka di hari kiamat.
‘’Sesungguhnya orang-orang munafik itu di tempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong bagi mereka.’’ (An Nisa 145)
            Bersabda Rasulullah SAW:

            “Ada empat sifat, siapa saja yang melakukanya tergolong munafik, dan yang mengambil sebagian darinya berarti telah mengambil sebagian sifat munafik sampai ia meninggalkannya sama sekali: jika di beri amanat ia berkhianat, jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika berdebat ia selalu curang.’’ (HR Bukhari-Muslim).
Kejujuran selalu melekat pada pribadi muslim. Ajaran ISLAM yang telah menjadi bagian hidupnya mengajarinya bahwa kejujuran merupakan punck segala keutamaan, dan asas kemuliaan akhlak. Kejujuran pada giliranya akan membimbing manusia kearah kebaiakan, mengantarkan manusia kesurga. Sebaiknya, dusta membawa manusia menuu kezaliman dan kejahatan, menyeret kedalam api neraka dan siksa. Rasulullah telah bersabda : “ sesunggunya kujujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebajikan itu akan mengantarkan surga. Dan seseorabat yang senantiasa berkata benar dan jujur hingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang benar dan jujur. Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, yang akhirnya akan mengatarkan ke dalam neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta hingga di dicatatdi sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Bukhari-Muslim) Seorang muslim yang benar akan selalu menghias dirinya dengan kejujuran di dalam setiap ucapan dan amalannya. Yang demikian itu merupakan martabat yang tinggi ddan mulia. Disisi Allah, manusia seperti itu dicatat sebagai manusia yang jujur lagi benar.

About